Bagi Anda pengemar soto, di Sangatta sekarang sudah ada rumah makan Soto Sragen yang terletak di jalan Yos Sudarso 1 ( dekat BRI Sangatta Lama).
Rumah makan ini tidak hanya menyediakan soto ayam
kampung saja tetapi juga soto daging sapi dan ayam goreng lalapan. Dari
segi rasa, soto yang di tawarkan akan cocok dengan lidah orang Jawa,
khususnya Jawa Tengah. Jadi buat teman-teman dari Jawa Tengah yang
merantau ke Sangatta, soto ini cocok buat “tombo kangen”.
Sumber : http://joshuaratadhi.blogspot.com/
CIRI KHAS KOTA SANGATTA
Salah satu ciri khas kota Sangatta adalah masjid
Agung Sangatta yang terletak di kawasan perkantoran bukit Pelangi.
Masjid ini letaknya dekat dengan kantor Bupati Sangatta.
Meskipun tidak sebesar masjid Agung yang ada di
Samarinda, namun masjid ini mampu menampung ribuan orang dan ratusan
mobil di area parkirnya yang luas.
Keindahan arsitektur dari masjid ini banyak
menarik warga Sangatta dan sekitarnya untuk berfoto disekitar masjid
tersebut baik dengan kamera handphone, kamera pocket maupun kamera DSLR.
Jadi jika Jakarta punya masjid Istiqal di Sangattapun mempunyai masjid
Agung sebagai tempat ibadah sekaligus “landmark” kota Sangatta.
Sumber : http://joshuaratadhi.blogspot.com/
BUDAYA KOTA SANGATTA (KUTAI TIMUR)
Budaya Bumbu Penyedap Sektor Pariwisata

Kegiatan pawai budaya merupakan kegiatan yang benar-benar melibatkan sisi emosional masyarakat Kutai Timur, mengingat sisi-sisi budaya yang ditampilkan menampilkan dasar identitas masing-masing individu. Sebagai sebuah daerah hasil pemekaran dari Kabupaten Kutai Induk pada tahun 1999, Kutim merupakan wadah berkumpulnya arus massa besar dari berbagai daerah. Penduduk Kutim memiliki keanekaragaman budaya yang besar dan menjadi berkah tersendiri, karena proses asimilasi budaya terjadi begitu mudah dan penuh rasa kekeluargaan.
Asisten Kesejahteraan Rakyat Setkab Kutim Mugeni mengatakan jika pelaksanaan kegiatan pawai budaya, masuk dalam agenda HUT Kutai Timur dalam setiap tahunnya. Kenapa selalu di ikutsertakan dan masuk pada jadwal ke protokolan, ini untuk mengingatkan pada semua pihak bahwa daerah ini adalah sebuah komunitas besar masyarakat yang begitu majemuk.
“Seperti kita ketahui bersama penduduk Kutim bukan hanya berasal dari warga Kutai dan Dayak semata, tetapi ada warga-warga dari suku seperti Jawa, Bugis, Tator, Sunda, serta suku-suku lainnya. Dengan bergabungnya berbagai adat istiadat, mengakibatkan Kutim mampu menjadi besar seperti sekarang. Berbagai suku memiliki kelebihan tersendiri, dengan kelebihan-kelebihan yang ada maka menjadikan pembangunan dalam berbagai aspek dan bidang menjadi lebih cepat maju,” jelas Asisten Kesra saat ditemui belum lama ini.
Lebih jauh Mugeni mengungkapkan jika kegiatan pawai budaya yang digelar bersamaan dengan HUT Kutim, dapat memancing minat kunjungan wisatawan baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Mengemas kegiatan wajib HUT Kutim dengan memadukan pada kegiatan pariwisata sangatlah wajar, bahkan daerah-daerah lain di Indonesia yang mengandalkan sektor pariwisata sebagai pendapatan daerah utama melakukan hal senada.
“Tidak ada salahnya, terobosan-terobosan terkait pengembangan ekonomi kreatif di bidang pariwisata. Perlu dikaji dan dikembangkan sejak dini, Kutim boleh saja menjadi daerah yang kaya dengan hasil Sumber Daya Alam yang melimpah ruah, bahkan juga untuk sekor pertanian, perkebunan, hingga kelautan. Namun inovasi sebagai salah-satu kunci bagi sebuah daerah untuk terus terdepan dalam segala bidang pembangunan, maka semua pihak harus turut berperan aktif mengaplikasikannya pada tindak nyata dilapangan. Budaya adalah bumbu penyedap yang di cari berbagai orang, baik dalam negeri maupun luar negeri,” tegas Mugeni. Sumber : Warta kutim,
sumber : klik disini





Tidak ada komentar:
Posting Komentar